Berkolaborasi Untuk Bisnis Lestari: Mengoptimalkan Potensi Kolaborasi di Kabupaten Musi Banyuasin

Kiprah Kabupaten Musi Banyuasin dalam Ekonomi Berkelanjutan Ramah Lingkungan

Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) di Sumatera Selatan dikaruniai dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah, seperti banyak kabupaten di Indonesia. Tapi, salah satu yang membedakan adalah komitmen dari Kabupaten Muba yang berfokus pada ekonomi berkelanjutan dan tata kelola perkembangan hijau. Komitmen Kabupaten Muba untuk pembangunan hijau didorong oleh bencana kebakaran hutan besar di tahun 2015 yang mengakibatkan kerugian 53.8 triliun untuk Provinsi Sumatera Selatan. Sejak saat itu, Kabupaten Muba berkomitmen untuk membangun ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Komitmen ini terlihat dari skor kualitas hidup dan pengelolaan SDA yang tinggi dalam Indeks Daya Saing Daerah Berkelanjutan (IDSB). Kabupaten Muba juga telah memenangkan banyak penghargaan untuk komitmen mereka seperti mendapatkan peringkat kedua dalam Daya Saing Daerah Berkelanjutan Award, dan mendapatkan posisi pertama untuk pilar tata kelola yang baik. Kesuksesan dari Kabupaten Muba untuk berfokus pada ekonomi yang berkelanjutan juga tidak lepas dari keberhasilan pemerintah kabupaten yang bekerjasama dengan beragam pemangku kepentingan mulai dari investor, mitra pembangunan, dan pelaku bisnis.

Menilik Potensi Kolaborasi Multipihak dan Optimalisasi Sumber Daya Alam Muba

Kegiatan webinar daring yang diadakan oleh Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), dan Supernova Ecosystem memantik diskusi tentang pentingnya pembangunan ekonomi yang disokong oleh pemeliharaan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga memperkenalkan potensi bisnis lestari utama dari Kabupaten Muba seperti potensi minyak sawit dan karet lestari dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) lainnya. Dengan luas Kabupaten Muba yang sekitar 14.265,96 km², sekitar 337 ribu hektar adalah perkebunan karet. 90 persen dari perkebunan karet tersebut merupakan perkebunan karet rakyat. Sementara itu, 429 ribu hektar dari wilayah tersebut adalah perkebunan kelapa sawit yang sekitar 31,1 persen dimiliki oleh perusahaan dan sisanya dimiliki rakyat sehingga pendapatan petani sawit cukup meningkat secara signifikan.

Dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, Kabupaten Muba masih memiliki banyak potensi yang bisa dioptimalkan, salah satunya inovasi bahan baku campuran aspal dari karet berbasis lateks pekat dan juga eksplorasi komoditas masa depan seperti plepah dan gambir. Untuk terus mendukung komitmen ekonomi berkelanjutan, pengoptimalan potensi SDA ini terus dikembangan dengan model pengelolaan multipihak yang sama-sama berkomitmen untuk menghasilkan komoditas lestari dengan memperhatikan pengelolaan dan perlindungan lingkungan.

Kesuksesan yang telah diraih oleh Kabupaten Muba selama ini dilandasi oleh keinginan kuat dari pemerintah Kabupaten Muba untuk tetap menjaga kelestarian alam bersamaan dengan pembangunan ekonomi. Namun, kesuksesan juga diraih karena keberhasilan kolaborasi dari berbagai pihak yang sama sama memiliki komitmen untuk bisnis lestari dan mengedepankan prinsip tata kelola yang berkelanjutan. Dalam kegiatan seri webinar daring yang diinisiasi oleh IDH, LTKL dan Supernova Ecosystem, pemangku kepentingan dan khalayak luas akan diperkenalkan ke konsep komitmen kolektif dari Kabupaten Muba. Komitmen kolektif ini juga berarti bekerjasama dengan pihak pihak yang memiliki visi sama dalam pembangunan. Kegiatan ini juga juga menyorot kisah kisah sukses dan dampak positif dari penanaman modal di Kabupaten Muba yang telah berhasil membangun kolaborasi kohesif dengan pihak luar dalam pembangunan lestari mereka di bidang sosial dan lingkungan.

Pelibatan Multipihak untuk Melihat Ragam Perspektif

Perspektif yang diangkat dalam diskusi melalui kegiatan webinar daring sangat beragam. Perbincangan dilakukan secara dua arah yang melibatkan Badan Pembangunan Daerah (Bappeda) Muba, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) dan SNV Netherlands Development Organization, organisasi nirlaba pembangunan internasional sebagai mitra pembangunan pemerintah, PT Kirana Megatara Tbk (KMG) yang mewakili sisi korporasi, dan Syamsu Rizal yang mewakili UMKM Gambo Kabupaten Muba.  Melalui diskusi ini, kita tidak hanya mendengar dari perspektif pemerintah namun juga pihak swasta dan mitra pembangunan. Tantangan yang dihadapi dalam membangun bisnis lestari akan dibahas secara komprehensif dan tanggapan serta rencana dari pemerintah Kabupaten Muba juga akan dihadirkan sebagai upaya mencari solusi bersama untuk mencapai komitmen pembangunan ekonomi yang tidak mengorbankan lingkungan.

Fitrian Ardiansyah, Direktur Yayasan IDH membuka diskusi dengan pemaparan tentang tantangan yang dihadapi oleh Kabupaten Muba yaitu kebakaran hutan, dampak lingkungan, dan keterbatasan produktivitas dari petani Muba selain itu ada pembahasan singkat juga mengenai komoditas unggulan dari Kabupaten Muba. Bapak Widyantoko dari KMG memaparkan kolaborasi antara perusahaannya yang bergerak di bidang karet dengan para petani. Kolaborasi yang dilakukan berupa upaya untuk berkembang sebagai komunitas bersama dengan memberikan penyuluhan, contoh contoh praktik baik, dan pemasaran. KMG tidak hanya berkolaborasi dengan petani dan pemerintah, tetapi juga dengan LSM seperti IDH dan SNV. Tujuan yang dituju oleh kolaborasi ini adalah satu, mengembangkan bisnis lestari, setiap pihak memainkan perannya masing masing dan saling melengkapi dengan kemampuannya masing masing.

Diskusi melalui webinar daring dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama untuk mitra pembangunan dan sesi kedua untuk investor. Di setiap sesi ini kita melihat pemaparan tentang keberhasilan Kabupaten Muba dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui kolaborasi multipihak. Salah satu tujuan utama dari webinar ini memang untuk memperkenalkan konsep komitmen kolektif atau penekanan terhadap kolaborasi multipihak yang memiliki visi bisnis lestari dan menjadi akar dari Kabupaten Musi Banyuasin untuk menuju ekonomi berkelanjutan. Kita juga mengeksplorasi pengalaman Musi Banyuasin dalam mengembangkan praktik bisnis yang berkelanjutan dan melihat peluang untuk investasi berdampak di Kabupaten Muba. Salah satu contohnya adalah pengembangan aspal karet dan bahan bakar nabati. Pengembangan ini berangkat dari upaya hilirisasi perkebunan karet dan sawit di Muba. Selain itu, ada juga peluang investasi di komoditas tradisional bagi masyarakat Kabupaten Muba, gambir. Selain produksi getah dari gambir, yang sedang berusaha dikembangkan juga adalah gambo, kain jumputan khas Muba yang menggunakan pewarna alami atau limbah dari pengelolaan gambir.

Kegiatan ini diinisiasi oleh IDH dengan dukungan LTKL dan Supernova Ecosystem. IDH memiliki pengalaman ekstensif bekerja dengan bisnis, pemodal, pemerintah, dan masyarakat untuk mewujudkan perdagangan berkelanjutan dalam rantai pasok global. IDH percaya bahwa kerja kolektif dan kolaborasi akan memberikan dampak positif bagi pembangunan keberlanjutan. Keyakinan tersebut juga dimiliki oleh LTKL, forum kolaborasi yang dibentuk dan dikelola oleh pemerintah kabupaten untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. LTKL menjadi jembatan antara pemerintah kabupaten dengan komitmen yang sama dan juga membangun jejaring mitra pembangunan nasional dan global, termasuk dengan Supernova Ecosystem, organisasi katalis yang membantu mendorong dampak investasi di tingkat kabupaten di Indonesia.

Ditulis oleh Azarine Kyla Arinta untuk Supernova Ecosystem.

Share the Post:

Related Posts

Scroll to Top