Acara: Workshop BMC dan Kolaborasi Bisnis untuk Bisnis Lestari Lokal di Sintang, Kalimantan Barat

WhatsApp Image 2021-03-19 at 09.55.37.jpeg

Supernova Ecosystem dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dengan bangga bekerja sama untuk mendukung DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Sintang, Kalimantan Barat dalam membuat Business Model Canvas (BMC) dan workshop kolaborasi bisnis untuk usaha lestari lokal. Acara ini dilaksanakan secara daring mulai dari 22 Maret hingga 12 April. Acara ini terdiri dari tiga workshop daring, diikuti oleh sesi mentoring interaktif dengan para ahli bisnis kami, dan diakhiri dengan Demo-Day.

Kami memulai dengan empat kelompok kolaborasi, masing-masing mewakili suatu komoditas dari Sintang. Setiap kelompok terdiri dari bisnis lokal di Sintang yang dicampur dengan bisnis di luar Sintang untuk bertindak sebagai mitra potensial dalam mengembangkan bisnis secara lebih luas.

Kelompok pertama adalah Tengkawang atau Illipe butter. Anggota kelompok termasuk Sintang Orangutan Center (SOC) sebagai produsen illipe butter dan konservasionis alam di Sintang, YAGI Natural sebagai produsen kosmetik alami lokal yang selalu mencari bahan baku berkelanjutan, dan Musimpanen sebagai pemasar dan distributor bahan alami. Kelompok ini bergabung sebagai konsorsium bisnis produk alami yang menyediakan illipe butter kosmetik yang diproduksi dengan nilai-nilai berkelanjutan untuk industri kecantikan dan kesehatan.

Kelompok kedua dan komoditas kedua adalah Coklat. Kelompok ini bertujuan menjadi penyedia produk turunan kakao berkualitas tinggi untuk industri kecantikan dan kesehatan, menyediakan pasokan yang berkelanjutan dan konsisten. Anggota kelompok terdiri dari CU Kelin Kumang, pemasok kakao berbasis koperasi di Sintang, yang bekerja dengan lebih dari 100 komunitas petani, dan YAGI Natural, produsen kosmetik alami lokal.

Kelompok ketiga adalah Kerajinan, yang terdiri dari Jasa Menenun Mandiri (JMM) dan Krealogi dari Duanyam. Mereka bertujuan menjadi pemasok produk kerajinan Sintang, khususnya kain tenun alami dan barang anyaman yang terbuat dari produk hutan non-kayu dengan pewarnaan berbasis alam. Produk-produk ini dibuat secara handmade oleh perempuan lokal, membuat setiap kerajinan unik dan kaya dengan budaya dan kearifan lokal.

Kelompok keempat adalah Albumin, yang menghasilkan produknya dari ikan gabus. Kelompok ini terdiri dari Sintang Freshwater Care (SFC), yang bertanggung jawab atas akuakultur di Sintang, Agrapanabio, yang bertanggung jawab atas penelitian dan pengembangan produk turunan albumin, dan Synergy Naturals (SPL), yang bertanggung jawab atas pemasaran dan distribusi. Mereka berusaha menjadi produsen albumin terpercaya dan berkontribusi pada industri kesehatan dengan karakteristik albumin dalam penyembuhan luka pascaoperasi, juga sebagai suplemen untuk pengobatan kanker, stroke, dan diabetes.

Pada minggu terakhir program, dibentuk kelompok lain. Berbeda dengan kelompok berbasis komoditas lainnya, kelompok terakhir ini adalah kelompok berbasis penelitian, yaitu kelompok Riset Komersialisasi. Terdiri dari Synergy Naturals (SPL), kelompok terakhir ini akan bertindak sebagai peneliti produk dan pasar untuk semua komoditas secara bertahap, dengan fokus pada kebutuhan pelanggan.

Pada 12 April, kami mengadakan Demo-Day secara daring di mana semua kelompok kolaborasi mempresentasikan proposal bisnis mereka di hadapan panelis Bapak Kartiyus, SH, M.Si (Kepala BAPPEDA Sintang), Lishia Erza (CEO, ASYX), Samantha Tedjosugondo (Wakil Presiden, SEAF), Dhita Rachmadini (Konsultan dan Associate, CLUA), dan Fajar Anugerah (Co-Founder, Supernova).

Share the Post:

Related Posts

Scroll to Top